..
Selasa, April 20, 2010
CerBung kita
Pengenalan tokoh
1.irwan : baik hati, calm, pintar, misterius, jarang gaul.
2.Erna:sederhana, baik hati, lugu, suka baca novel sedih, melankolis banget.
3.Andi : si gaul, hyperactive, agak lebay, sok tahu.
4.Ratna:Cantik, judes, sombong, suka sama cwo cool n gaul.
5. via : imut, periang, pemalu, suka pelajaran bhs.
6. lina:gaul, pemilih, pengen diperhatiin, trus yg paling lucu seneng ma brondong gtooooo.!!!!
7. dedeng : religius, pendiem, pintar, culun gtu.
Kisah ini berawal dari ketika kami masuk sekolah sma favorite di salah satu kota terbesar di jawa barat.
Irwan berasal dr desa yg dmn pergaulan di desa engga sekeren kota maklum aja, sehingga irwan sangat canggung ketika bertemu org yg belum dia knal betul.
“ Eh...erna coba lihat deh tuh cowo di depan itu ko mukanya serius banget gitu si, dari tadi diem aja nyapa ke ke temen sebelahnya atau apa ke daasar orang kampung katro...”, “gerutu ratna pada erna”.
“wuuus...ratna udah ah biarin aja toh kita kan baru ketemu mungkin aja dia canggung maklum kan baru ketemu orang baru”,”timpal erna dengan kebaikan hatinya itu”.
Ratna dan erna adalah teman satu smp ketika mereka duduk di kelas 3 mereka berasal dai daerah yg sama namun mereka berbeda dalam hal tingkatan ekonomi, erna bereasala dari keluarga sederhana mereka tinggal di sebuah rumah sederhana beratapkan genting tua yang sering bocor.
Sedangkan ratna merupakan putri dari seorang pengusaha hotel, meskipun hidup ratna cukup dan malahan lebih dari cukup tapi ratna merasa ada yg hilang dr hidupnya yaitu suatu keluarga yg utuh kondisi rumah tangga keluarga ratna berantakan “broken home”sehingga menjadikan dia seorang anak yg sombong, anngkuh, judes, gak ramah,meskipun ramah dia pilih-pilih org.
“ udahlah rat jangan ngomel in dia terus ntar kena batunya baru tau rasa loh..”,”sahut erna dengan nada menyindir”, mending ajak knalan aja siapa tau kalo udah kenal dia ga bakalan gtu lagi sama kamu”,”erna menambahkan”.
“soory ye.....ga ada tuh dalam kamus seorang ratna mulai duluan memperkenalkan diri tengsin tau heeeh”,”gerutu ratna sambil dengan nada judesnya”. “Ya udah itu si terserah kamuu aja tapi kalo ada apa-apa jangan bawa-bawa aku ya”,” timpal erna dengan lugunya.”
Dari belakang terdengar keramaian sehingga membuat pandangan ratna berbalik arah dari yang memperhatikan sosok irwan yg pendiem n calm, menoleh ke arah seorang cowo yang, ya bisa dibilang gaul, supel, nyentrik, dan agak lebay gtu....” hai cewe boleh knalan engga namaku andi ardiyansyah, panggil aja andi,” nada andi sangat merayu via seorang cewe pemalu, dengan nada malunya via menjawab pertanyaan andi dengan rasa deg-degan, “boleh nama aku via rusmiati kamu bisa pangil aku via ” di sebelahnya seorang wanita dengan paras cantik tapi masih kalah dengan aura yg di pancarkan ratna yang bak bidadari yg turun dari langit tadi pagi, he...... namanya lina anggraeni meskipun gaul lina lebih menutup diri pada org yg baru dia knal, “ hai cantik boleh knalan engga ko kamu diem aja si kenapa terpana ya dengan ketampanan aku”,”sahut andi dengan lebay nya”.” Engga juga aku ga abis pikir aja ko ada ya cowo sepede dan selebay kamu”,itulah jawaban lina dengan lantangnya”, sepontan semua orang yang ada di kelas itu menatap wajah andi yang sangat malu dan berwarna merah cabe, yang matang.
Andi langsung duduk dan tak berucap apa-apa lagi setelah kejadian itu. Andi tetap usaha dengan gaya lebaynya dia mencoba mendekati ratna yang kala itu sedang memperhatikan irwan, sepertinya dia menginginkan sesuatu dari sosok laki-laki pendiam itu.” Hai boleh knalan engga nama aku andi ardiansyah, panggil aja andi nama kamu siapa?”,”sahut andi dengan nada merayu nya lagi”,” boleh nama aku ratna puspitasari panggil aja ratna atau dede”, “kata ratna demikian”langsung ratna menampakan wajah judesnya kembali kepada siapapun yg ada di dalam kelas.
Hari demi hari kami lalui dengan kebersamaan sehingga munculah arti teman di hati kami masing-masing, baik lina dengan via ratna dengan erna namun sosok irwan tak pernah gaul meskipun sudah lama bersama, ratna begitu dekatnya dengan andi sehingga sebagian teman berpendapat bahwa mereka telah menjalin ikatan, ternyata andi salah mengartikan kedekatannya dengan ratna banyak usaha yang telah andi lakukan demi dekat dengan sang pujaan hatinya itu.
Ternyata usaha yg dilakukan andi tidak sampai disitu, setelah sekian lama kami berteman satu kelas di penghujung semester dua kelas satu usaha andi semakin giat mendekati ratna sang bidadari kelas kami, ” rat aku boleh bicara engga dengan kamu empat mata aja ”,” kata andi kepada ratna ”, dengan penuh pengertiannya erna meninggalkkan ratna dan andi berdua, “ begini rat aku sudah lama bersimpati terhadap dirimu aku mungkin merupakan sosok pria idaman bagi setiap wanita di sekoah ini ”, dengan lebaynya andi mengatakan itu, ratna tersedak mendengar pengakuan dari andi tersebut, “ aku sebenarnya menyimpan rasa cinta terhadap kamu rat, apakah kamu bersedia menerima aku apa adanya”,”pinta andi dengan memelas cinta kepada ratna”, “ aduh gimana ya soalnya aku udah nganggep kamu itu teman engga lebih meskipun lebih paling sodara itu aja”,”jawab ratna dengan tegas”.
Keesokan harinya erna pengen tahu apa yg dilakukan ratna dan andi kemarin, “pagi rat ?, gimana?,”sahut erna kepada ratna dengan penasaran”, “gimana apanya...”,”timpal ratna”,”itu, kemaren apa si yg dibicarain kalian berdua sampe-sampe Cuma pengen berdua aja,” owh...itu andi berusaha nembak aku “ kata ratna dengan datar sambil menyimpan tasnya diatas meja”,” haa...nembak kamu terus kamu jawab iya” kaget erna”, “ya engga lah”, “jawab ratna dengan nada judesnya”. Setelah sekian lama mereka berbincang lonceng bel berbunyi pertanda pelajaran akan dimulai.
Fisika itulah sosok pelajaran yg sangat horor di kelas kami selain rumusnya yang seabreg-abreg n gurunya yg terknal sangat wiiih manteeep, tapi ternyata jam pertama dimulai dengan bahagia ada murid baru yang masuk di kelas kami, sosok murid baru yg paling disukai karakternya oleh irwan, dia bernama dedeng sugiantoro biasa disapa dedeng tapi disini dalam tanda kutip ya ” karakter disini bukan dalam artian suka or cinta ma sesama jenis melainkan kpribadian dan sikap yang ditonjolkan olehnya “tidak lama akhirnya dedeng dan irwan berteman akrab kesukaan mereka akan pelajaran membuat mereka menjadi bintang kelas.” penulis paling suka cerita bagian ini ” Ternyata irwan si pendiam tak disangka menyimpan rasa terhadap lina teman yg akrab sekali dengan via, meskipun pintar irwan sangat pendiam dan jarang ada yg suka karena dia jarang ngobrol sama temennya meskipun satu kelas.
Ada kejadian lucu yang terjadi saat berlangsungnya pelajaran jam pertama, waktu itu pelajran MTK, saking semangatnya belajar- mengajar kami datang sangat pagi sekali orang – orang mungkin masih baru bangun tidur, kami udah On The Way ke sekolah istilah anak-anak adalah jam ke nol ngebut deh berebut kursi angkot dengan orang yg pulang dari pasar,ni dia kejadian lucu ntu: dasar hewan engga punya akal buang hajat di sembarangan tempat ya salah kami juga si engga ada piket dulu karena kami pagi sekali dari rumah boro-boro mikirin piket asal tepat waktu aja cukup, sang guru sedang asiknya mengajar dengan semangat karena suasana pagi yang sejuk, dingin, dan sunyi, tiba-tiba ...??????
Sang guru menginjak kotoran kucing dan berjalan layaknya orang pincang dengan tergopoh-gopoh dia berucap “aduh apa ini”, kami semua yang menyaksikan kejadian itu langsung terpana terdiam beberapa saat, setelah itu tertawa seperti hiburan dipagi hari saja ketika kami mulai streees dengan keadaan ini, eh...ada hiburan setelah terinjak kotoran itu mulai meyangkan aroma busuknya kepada setiap orang yg berada di dalam kelas tak satupun yg tak mecekik hidungnya, demi mendapatkan udara yg masih original kami keluar kelas berhamburan mencari udara segar di pagi hari, karena di dalam kelas udara sudah tidak steril sudah tercemar “penulis tidak dapat melupakan kejadian tersebut “.
Dengan langkah gontai dan tak percaya diri, irwan sebetulnya ingin sekali mengungkapkan rasa yang ada dalam hatinya, tapi apakah semua itu nyata atau hanya perasaan sekali lagi dia mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasaanya kepada sosok gaul, lincah, sederhana, dia mendekati via temen dari lina yg paling akrab dengan lina,” siapa lagi kalo bukan via”,”gumam irwan dalam hati”.
“vi...maaf ada hal yg penen aku obrolin sama kamu”, sahut irwan kepada via”,”boleh kapan n dimana”,”jawab via dengan bingung nya ko bisa si irwan ngajak ngobrol dia selama ini kan dia itu pendiam jarang ngobrol ma cewe ko sekarang di ngajak ngobrool aku pasti ada hal penting ni”,”lirih dalam hati via”. untungnya via adalah sosok teman yang peduli terhadap permasalahan temannya, bantuan via sangat berarti bagi irwan, “gini vi aku ada sesuatu hal yg penting yg ingin aku sampaikan namun ini rahasian ya jangan sampai temen yg lainnya tahu”,”kata irwan meminta”.
“ya aku jaga rahasia kamu percaya deh ma aku”,”jawab via santai”,
“gini loh vi aku sebetulnya menyimpan perasaan sama temen kamu itu”,”siapa”,”jawab via”,
“Lina,”,”jawab irwan”,” aku suka sama dia, engga tahu sejak kapan aku punya perasaan ini tapi yg pasti aku sangat cinta padanya”,”curhat irwan pada via”, “owh Lina ya..”,”gumam via”, dengan penuh perhatian, via mendengarkan kisah yang di utarakan irwan sebetulnya dia bisa menangkap bagaimana hancurnya hati irwan kalo dia tidak mendapat pertolongan darinya,” terus apa yang bisa aku bantu wan”,”via bertanya”,”kamu bantu aku beritahu apa yg paling lina suka, yg sering dilakukan lina, bisa engga kamu bantu aku”,”jawab irwan”,”mudah-mudahan aku bisa bantu kamu, tapi aku engga menjamin kalo lina bakalan suka sama, soalnya dia pernah cerita dia paling anti dengan cowo yang diem aja, engga ada perhatian ama dia, emang kamu bakalan bisa jadi apa yg dia pengen???”,”cerucus via”.
“mudah-mudahan aku bisa menjadi apa yang di idam-idamkan lina.”,”timpal irwan kepada via”
bersambung dulu ntar disambung lagi
rain city
19-04-10
prabu........
Senin, April 12, 2010
Perjalananku

siang kemaren jam setengah tiga diriku berangkat ke jakarte,,,niatnya sih pengen betulin PC dikosan yg ngadat nya minta ampun, baru setengah jalan aja rasa malas dah hinggap di benak ini apa jadinya coba baru setengah jalan dah males akhirnya dengan segenap jiwa dan raga (lebay banget si), aku coba menaiki angkot menuju stasiun kereta dibogor, pas nyampe di kereta banyak orang berlalu lalang maklum lah kelas ekonomi dari tukang asongan sampe pengemis berbagai modus banyak, sekali hilir mudik di dalam kereta, sudah tak aneh lagi kalo kelas ekonomi selalu telat dari keberangkatan nya harus nya udah nyampe ci tayam eh masih aja tetep di bogor ga mau maju ya udah molorlah waktu yang harusnya jam 6 atau sekitar magrib lah sampe eh isya baru nyampe di kota, belum lagi angkot kota yang ngetemnya minta ampun Lola nya, mana laper lagi perutku sudah lengkaplah penderitaan ini.
tapi ada satu hal yang membuatku nyaman di dalam kereta yang penuh sesak, sesosok wajah yang damai meneduhi hati yang panas ini cuma sayang belum sempat kenalan eh,,,dia udah turun di sawah besar,,,kandaslah perkenalan perjuangan belum berakhir masih ada beberapa stasiun lagi mana bawaan lumayan berat lagi.
maklum namanya juga kota oranghilir mudik kesana kemari tanpa peduli orang sekitar dia apakah sedang susah, senang, apalagi bahagia namanya juga kota metropolitan huh,,,,susah.
waktu sudah menunjukan jam 8 mlm tapi komputer ku belum juga selesai diagnosa oleh ahlinya "tukang sevis", tadinya aku takut jika harus ganti MB(Mother Boat), padahal cuma ganti PS aja huh leganya akhirnya dengan rasa senang diri ini pun kembali berjalan menuju lift yang berada di pojok lantai 2 mangga dua, menuju base untuk menunaikan kewajiban, karena belum sempet solat magrib jadi sekalian aja ama solat isya jadi ntar pulang bisa langsung tidur nyenyak.
dalam perjalanan pulang penuh sesak penumpang berjejalan dalam kereta baik tua, muda, laki-laki, prempuan, tapi yang anenhnya itu ada 2 sosok prempuan muda belia kira-kira umur 23-25an lah dengan penampilan mengundang perhatian, terutama kaum adam pakaian mereka menunjukan lekuk tubuh dengan sempurna serta celana yang mereka pakai lebih pantas di sebut celana dalam ketimbang di sebut celana jeans' karena penuhnya penumpang dalam gerbong, maka tak bisa di hindari aku sangat dekat, lebih dekat, makin dekat,dan terjadilah tabrakan yang tak bisa di elakan cuma aku terus membuang pandangan dan berpikir positif aja perhatianku aku alihkan sama Hp yang ada di saku jaket, karena kalo aja perhatianku tercurah pada wanita disamping wah.....bahaya lah.
akhirnya depok sampe juga, dengan rasa kecewa atau senang ya kalo wanita aneh dengan dandanan yang membuka aurat itu telah pergi dari hadapan mata.
rasa lelah telah menghampiri badan ini peluh tak terelakan lagi membanjiri tubuh dan kening, kering kerontang tenggorokan akhirnya kereta sampai di peraduannya heheh.......bogor I'm coming again.
setelah keluar stasiun, cari angkot menuju kosan wiiiih seru pengalaman sehari bersama kereta dan jalanan macet,,,,,,
rain city 11-04-10
prabu.....
Kamis, April 08, 2010
Waktu
.jpg)
tiada lelah ku berlari
mengejar kehidupan tanpa henti
semua nafas menginginkamu
namun tak ingin kau hentikan
dimana ada kehidupan
disana kau ada
berjalan berirama saturday dekati kehidupan
yang ketakutan olehmu
hanya tuhan yang mampu hentikannya
namun........
saat ia berhenti berjalan
takan ada lagi kehidupan
Waktu......
siapa tak inginkannya
siapa pula yang ingin dihentikan olehnya
dia amat berarti
karena selagi ada waktu
setiap nafas
menggenggam kehidupan serta kesempatan
Rabu, April 07, 2010
sendiri di balik sepi

rinai malam menghampiri diri
gemerisik suara jangkrik memecah keheningan malam
alangkah indah puisi alam yang terasa
serasa terbang mengitari semesta
semestinya dirimu ada disampingku menemaniku
di waktu kesakitan, kesenangan, rasa resah,
gundah, serta sesalku
sungguh kuingin hanya bersamamu
bercinta di malam yang sunyi senyap
dimana bulan berada diperaduannya
ingin rasanya kembali terlelap
disisimu ku cumbu dan hangatkan tubuhmu
meski raga ini tak mampu memiliki itu semua
namun jiwa ini merasakan kebesaran akan cinta
sejak kepergian ragamu
diri ini tak mampu untuk kembali tersenyum
merasa kehilangan akan gairah kehidupan
apakah gerangan yang kau berikan sehingga
dirimu menjadi candu yang tak bisa aku lepaskan
sungguh diri ini merasa lemah tak berguna
akankah kau kembali kesisiku
menemaniku seperti dulu
tertawa bersama, sedih bersama, susah bersama-sama
bahagia dengan kehidupan yang sederhana
sungguh aku ingin melihatmu bahagia
tersenyum kembali
dengan ceria kita bangun mimpi kita
kita kejar cita-cita dan harapan
yang pernah kita ukir bersama
walaupun jalan yang dilalui berliku
tapi dengan semangat kebersamaan kita dapat
melaluinya dengan ceria dan bahagia bersama
kembalilah cintaku, jiwaku, separuh nyawaku
telah pergi bersamamu.
semoga kau dapat bahagia dengan perpisahan ini
biarkan diri ini yang menderita
selalu merana dalam kesepian yang tak berujung
dengan kesendirian diri ini menghibur hati yang hancur
luluh lantah bagaikan terjangan tsunami
hatiku terus menjerit menatap malam yang selalu menemani diriku
hanya kesunyian malam yang slalu mendengarkan kisahku
sellu setia menemami, memahami, tak pernah berkeluh kesah tentang dirinya......
rain city 07-04-10
prabu......
kegelapan dalam cinta

aku tidak tersesat
dan aku tidak kalah
tapi aku ingin keadilan darimu
dimana hatiku?
apakah kau menyimpan hatiku?
hatiku terasa hancur
karena mencintaimu
mengapa ? karena kau tawan cintaku
ku mohon lepaskan cintaku
dan kembalikan padaku
aku ingin kebebasan
dan aku ingin sendiri
aku tidak lari dan aku tidak menang
tapi aku mengharapkan cinta itu datang kembali
kepadaku
walaupun kini tak sempurna
tapi aku masih percaya di lain waktu
aku bisa melukiskan hatiku
dengan sempurna
mengapa ?
karena aku akan membawa cintaku ke masa depan
dengan hati yang lembut
selembut burung cinta
terbang tinggi
menembus langit ke tujuh menuju nirwana
tentunya dengan hati yanglain
dan tanpa hatimu itu saja
Selasa, April 06, 2010
sejuta luka di tepi senja
Angin berhembus sepoi, menerpa daratan membuat gerak nyiur tepi pantai melambai, perahu-perahu nelayan yang tertambat dibibir pantai bergoyang saling beradu badan, diterpa gulungan ombak, kadang terseret lalu tertarik tali yang mengikatnya. Barisan nelayan sibuk silih berganti menarik jaring yang dipasang tadi pagi. Gerakannya teratur dan kompak. Senja terasa indah ketika warna jingga dibarat sana berpadu dengan kelam di sini. Suara camar terdengar ramai berbaur debur obak yang menghantam karang.
Keindahan alam ini tak seindah keadaanku dan Lina saat ini. Minggu kemarin masih terasa indah ,dan memang indah seindah kisah aku dan lina yang seolah akan abadi. Sepanjang hubunganku dengan Lina disinilah tempat kami memadu rindu. Berjuta resah hilang dalam satu senyum senja di sini. Beratus cerita tertumpah menjadi canda dan berakhir dengan dingin karna seluruh tubuh kami basah oleh air laut.
Namun itu minggu kemarin, bulan kemarin dan tahun kemarin. Saat ini semua berubah Lina bungkam. Sejuta indah menjadi duka,luka dan tangis. Kemarin ia basah oleh air laut, kini oleh air mata. Menyedihkan memang. Namun semua memang harus terjadi karena apapun di dunia ini tidak ada yang abadi.
Senja semakin kelam, sekelam kisah cintaku dan Lina. Keadaan ini serupa musim gugur, yang tak akan menemui musim semi, tinggalah hanya ranting tanpa daun. Dunia seakan kemarau yang hanya meninggalkan haus yang teramat dikrengkongan. Aku menjadi kaku, Lina membeku.
“Aku tahu, engkau pasti membenci, sakit hati dan marah sekali padaku, sebeb cinta yang engkau berikan pada ku aku balas duri tajam di hatimu,” ucapku memecah kebekuan. Lina hanya memandang jauh kelautan, ia seakan tak mendengarkan kata-kataku.
“Aku sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki dan aku tak pernah berniat sedikitpun untuk mempermainkan perasaan ini padamu,” lanjutku. Lina masih terpaku, diam tanpa reaksi. Aku tahu perasaanya. Ia ragu pada perasaannya sendiri.
“Aku mencintai kamu Lin.., dan aku sayang padamu. Namun, semua itu hanya abadi di hatiku. Aku tak bisa berikan itu semua secara nyata. Sebab aku akan menjadi milik orang lain,” Lina masih tak bergeming dengan tatap mata yang mulai lembab.
“Aku akui kamu memang cantik, baik. Rasanya tidak ada yang kurang pada dirimu,” lanjutku.
“Apa sebenarnya yang engkau inginkan?” Lina bertanya dengan mata mulai basah, dan tetap menatap jauh ke hamparan laut yang mulai menghitam. Aku hanya mendesah dan menjawab semampuku.
“Aku hanya tidak ingin menyakiti hatimu lebih dalam lagi,” jawabku. Lina tersenyum getir lalu menatapku, matanya semakin basah.
“Sebentar lagi aku akan menikah Lin…” ucapku saat Lina menatapku. Dan aku yakin Lina tak pernah menyangka kata itu keluar dari mulutku. Lina tersenyum, aku bingung.
“Kamu bercanda kan?” ucap Lina sambil memegang telapak tanganku. Ia seakan meratap mengharap jawaban “iya”.
“Aku serius Lin. Aku akan menikah dengan gadis pilihanku, yang pastinya bukan engkau,” jawabku. Lina menatapku tajam, butir bening mengalir berlahan, lalu meremas telapak tanganku dengan perasaan aneh, seakan berjuta kecewa merambat pada setiap nadinya.
“Aku rela, jika itu yang terbaik untukmu.” Hanya kata itu yang dapat Lina ucapkan padaku. “Besar hatikah engkau?Ttuluskah engkau merelakan aku menjadi milik orang lain?” gumam hatiku.
Dan jawaban hatiku mengatakan “TIDAK”. Lina hanya menutupi kelemahannya, ia hanya ingin menyenangkan hatiku. Namun, kata itu sangat menyengat dalam hatiku.
“Kau tidak memohon agar aku meninggalkan gadis yang akan aku nikahi? Tuluskah engkau merelakan aku pergi?” Senyum getir tersungging di sudut bibirnya, hatinya sedang mengutuki aku yang kejam ini. Terlihat dari sorot matanya yang tak lagi lembut.
“Brengsek, playboy, bajingan,“ itu ucapan hati Lina pastinya, dan entah apalagi yang nanti keluar dari hatinya di saat Lina rebahkan tubuh di ranjang tidurnya. Di saat malam semakin sepi dan hari-hari semakin hilang. Di saat mimpi tak lagi indah, di saat kenangan menjadi hal yang menakutkan.
Di depanku, Lina menangis lalu tersenyum. Aku menatapnya, tanpa perasaan kasihan. Aku bangga, akhirnya aku bisa lepas dari ketidakberdayaanku hidup dalam dua cinta. Tanpa maaf aku ceritakan kisah cinta antara aku dan calon istriku. Lina mendengarkan kisah itu sambil menggigit bibirnya yang tipis dan merah jambu, air matanya terus mengalir dan aku tak peduli.
Aku hanya ingin ungkapkan semua rahasia, keburukan dan ketidak-benaranku padanya. Dan tak ada niat aku ingin mempermainkannya.
“Perasaanku tak bisa aku paksakan untuk tidak mencintai kamu,” ucapku, setelah aku tahu air matanya semakin deras dan nafasmu semakin tersengal.
“Aku hanya mengharapkan, setelah engkau mendengar dan mengetahui, siapa aku sebenarnya engkau semakin sayang padaku.” Lina menatapku lagi. Dengan bibir yang semakin gemetar.
“Namun kejujuranku sangat melukai hatimu. Cintamu berubah menjadi benci padaku, dan engkau bukanlah pecinta sejati, cinta yang engkau miliki hanya cinta sesaat. Cinta yang memaksakan diri untuk memiliki. Sama sekali tidak tulus Lin...” ucapanku membuatnya tersentak. Namun tak dapat berucap.
“Aku muak..! sudah… hentikan ocehanmu!” bentak Lina. Aku tak diam tetap aku lanjutkan kata-kataku.
“Engkau sama sekali tidak tulus mencintai aku Lina, cintamu tidak tumbuh dengan sendirinya. Namun kau mengharpakan sesuatu dariku. Sebenarnya jika engkau mempunyai cinta yang sesungguhnya, kau tak akan merubahnya menjadi sesuatu yang lain di hatimu,” lajutku. Lina tertunduk. Meremas kembali tanganku. Lalu menatapku tajam dan “clepak” tangannya menempel keras di pipi kiriku.
Aku maklum, ini ungkapan resahnya, marahnya dan kesalnya. Aku maklum ketidak-relaannya, ketidak-tulusannya dan ketidak-sabarannya yang membuat Lina seperti itu.
“Kamu tahu? Kenapa aku pilih gadis itu bukan kamu?” tanyaku. Lina hanya tersenyum.
“Dia lebih cantik bukan?” jawabnya.
“Bukan! Bukan karena itu aku memilihnya, namun karena aku tahu ia pemlik cinta sesungguhnya, ia tak pernah membenciku sedikitpun walau aku sudah sering menyakiti hatinya. Ia wanita yang tegar, sabar dan berani. Aku sayang padanya.” Lina tertunduk mendengar ocehanku.
“Kita kebanyakan munafik memang, sekarang jelas bukan? Kenapa aku memilih dia bukan kamu? Cinta sejati dan tulus yang diberikan padaku telah terbalas dan berhasil memiliki jiwa dan ragaku.” Lina tesedu. Dan entah apa yang sedang ia pikirkan. Aku yakin dia mengutukku, memaki dan menyumpahi aku. Hati siapa yang tak luka dan tidak merasakan kecewa jika sesorang yang ia inginkan dan ia sayang pergi tanpa merasa bersalah dan berdosa.
Aku mengaku, jika aku memang salah. Salah pada Lina, pada calon istriku dan pada diriku sendiri. Dan terlebih lagi pada Tuhan, karena rasa yang diberikan olehNya sangatlah suci namun aku kotori dengan menyakiti hati orang-orang yang mencintai aku.
“Maafkan aku Lin..” hanya kata itu yang dapat aku ucapkan dengan ketulusan dari dalam hatiku. Aku rasa, sakit hati adalah resiko yang harus diambil jika menjalin hubungan hati dengan cinta yang bukan sebenarnya.
“Mengapa harus aku yang kamu sakiti bukan dia!?” bantah Lina di sela tangis.
“Karena dia sudah aku sakiti sebelum kamu,” jawabku singkat. Kami terdiam, hanyut dalam kenangan silam. Aku memang merasakan keindahan atas kisah cinta yang terjalin dengan Lina. Aku merasa memang Lina tempat keindahan itu, namun aku juga merasa jika Lina bukan tempat bahagiaku.
Sejujurnya aku ingin menyesali karena mengenalnya dan membiarkan hatiku liar mencintainya. Dan kenapa aku harus menyesal? Rasa ini anugrahNya, apakah pantas disesali yang seharusnya disyukuri? “Tidak”, aku tidak menyesalinya, semua ini takdir bahwa Lina bukan jodohku.
‘Please honey, fahamilah, mengertilah, tetapkanlah pada hatimu, pada rasa yang saat ini sedang engkau buang.”
Angin laut berhembus semakin dingin, debur ombak tak terlihat lagi, lentera badai berayun di atas perahu, seperti keadaan Lina yang melangkah lunglai di sampingku, sambil mendekap pinggangku, masih dengan tangis. Lalu kami berhenti di persimpangan dia memelukku. “Terima kasih bajingan!” bisiknya di telingahku. Aku tersenyum dan mengecup keningnya. “Maaf,” ucapku.
Rania
Palapa, Januari 2010
senja di bilik kamar

Adzan telah dikumandangkan mu’azin masjid. Mengisi persendian seantero kampung halamanku yang memang tidak begitu luas. Langit menyiratkan rona keemasan di ufuk barat dan burung gagak mengepakkan sayap menuju sarangnya, membelah perluasan desa dan anak-anak berteriak lari menuju serambi rumah mereka yang terbuat dari bilik.
Aku menatap mereka dari kejauhan, mengintip di balik jendela rumahku. Sembari tersenyum dan kemudian terkekeh tatkala seorang anak menghampiri ibunya, sang ibu segera menegurnya mungkin menyuruhnya menyusul si bapak ke sungai. Anak itu lincah, ia mampu menghindari sabetan tangan ibunya, kemudian ia teriak mengolok sang ibu yang nampak tengah mengandung.
Anak itu berlari, membuntuti seorang pria paruh baya. Ia terkadang mendahuluinya kemudian berhenti tatkala bayang si pria tak nampak di pandang mata. Kemudian ia bergelayut di tubuh pria itu, dan tetap begitu sampai hilang di sudut mataku.
Pintu kamarku di ketuk.
Aku melangkah ke pintu kamarku. Sembari membenarkan kerudung putih yang aku kenakan dan sedikit menata busanaku. Kemudian menarik kunci pintu kamar yang berkarat. Aku tersenyum.
“Din, kamu di panggil Bapak.” Pria itu seraya tersenyum padaku. Senyuman yang telah aku kenal lima tahun yang lalu. Senyuman yang telah menghiasi hari-hariku, membuatnya menjadi berwarna.
Aku tak berani menatapnya lebih dalam. Anggukan kecil mengiringi apa yang ia katakan. Aku tetap begitu, berdiri kaku tanpa suara. Aku tak mau menatap kedua bola matanya. Entahlah ia seakan memiliki panah yang siap menghujam persendianku. Jika aku tak hati-hati, mungkin aku akan jadi tumbal perselingkuhan antara desakan nafsu yang mencari pembenaran akan birahi, sejak dulu.
Pria itu masih berdiri dihadapanku. Tanpa kata dan gumam, ia tetap menatapku. Membuatku seakan ditelajangi oleh kedua matanya, mengelupaskan persendian kulitku yang rapuh akan desiran dan lusuh dalam gerangan.
Aku memegang erat kedua tanganku. Meremasnya. Sesekali aku menghentakkan desisku. Mengayun kepalaku, mencari jawab, mencari kata, mencari waktu, dan menghitung detak jantung. Berharap akan ada bisikan jibril, menghujani hatiku yang bergelora atas kibaran api yang bergemuruh dalam ufuk kekeringan.
Ia mendekatkan jemarinya ke lenganku dengan senyum manisnya. Aku sedetik tak mampu berkata, ternga-nga. Kemudian aku memejamkan mataku. Sejenak jemarinya terasa asing di lenganku. Ia seakan benda asing yang selama ini aku harapkan untuk singgap di tempat ini.
Aku tak pernah merasakan pria ini begitu hangat. Kehangatan ini yang tidak sewajarnya aku rasakan sebelum semua peresmian itu terjadi. Aku beranikan untuk menatapnya lekat. Ia pun begitu dalam, menghujam peredaran darahku, memusatkannya pada kemelut kenistaan yang menjijikan.
Ia beranjak dari hadapanku, tanpa saura dan kata penutup. Ia pergi begitu saja. Meningggalkan aku yang kini bergemuruh, bergetar hebat dalam nafas yang hendak berlari dari persinggahannya.
“Sampaikan pada Bapak aku akan menemuinya nanti.” Aku ragu jika ia masih mendengar apa yang aku katakan.
Tanpa persetujuan hati, aku masuk dan mengunci pintu kamarku. Membenamkan kepalaku dalam buncahan rasa yang membingungkan di bilik yang tak begitu kokoh.
Aku memejamkan mata, membayangkan atas apa yang baru saja ku lakukan pada pria tadi. Sekali lagi menarik nafas dalam, berharap nafas hawa meretas dalam jiwaku, membenamkan persendian Adam dalam pergulatanku.
Aku duduk di ranjang yang berlapakkan putih yang kini berona kekuning-kuningan. Aku duduk disana dengan memaki diriku. Entahlah aku ragu atas apa yang barusan terjadi. aku tak pernah merasa begitu hidup dalam kehidupan yang selama ini mengerangkengkan aku dalam jeruji asrama putri, di sekolahku.
Aku ingat betul, betapa sulitnya aku memiliki momen untuk bertatap muka dengan seorang pria, betapa ketatnya peraturan asrama, hingga aku sendiri tak pernah mengenakan tank top layaknya perkembangan trend anak muda saat ini.
Aku selalu ditutupi dengan kerudung putih dan pakaian yang selalu merengkuh pergelangan tanganku dan selalu diakhiri dengan stoking coklat di ujung pergelangan kakiku.
Air mata mengalir dari ufuk mataku, mataku yang selama ini kerontang akan lembaban kesejukkan akan sebuah rasa yang menghimpitnya. Sejenak aku melupakan ayat-ayat yang selama ini aku lafalkan, sedetik aku menghanyutkan pikirku dalam sebuah ruang yang aku ingini.
Pikirku melayang, melayangkan sebuah angan dimana aku tak ingin mengenal agamaku. Sejenak aku ingin melepaskan jeruji yang selama ini mengikatku. Sejenak aku ingin menendangkan lagu kebebasan tanpa aturan. Hingga aku bisa memeluknya tanpa ada rasa bersalah dan malu.
Aku melihat ke kaca riasku. Aku selalu mempertanyakan kenapa aku terlahir dalam lingkar keluarga yang selalu memaksaku untuk menjalankan apa yang mereka inginkan.aku ingin menjadi manusia yang mengenal rasa bukan paksa.
Aku menyalahkan ustadz-ustadz yang selalu menceramahi kami akan keputusan kami. Aku membenci mereka. Tidakkah mereka tahu bahwa direlung hati ini ada rasa untuk mencicipi permaduan yang disajikan dunia.
Terlintas dalam pikir jahatku, apakah mereka menginginkan keperawanan kami hanyut dan kering di asrama putri yang tak pernah melihat dan bicara dengan pria dengan begitu intim?
Hatiku menjerit dalam bisu. Aku tahu ada yang salah antara aku dan pria tadi. Aku menginginkannya. Aku ingin memeluknya erat. Aku ingin mencumbunya sampai ketulang-tulang keringnya. Kemudian diakhiri dengan peluh di sekujur tubuhku.
Aku menanggalkan kerudungku, memolesnya dengan maskara yang aku beli sebelum aku sampai kerumah, saat keluar asrama putri yang selalu mengikatku dalam aturan bakunya.
Aku tersenyum tatkala melihat mukaku merona akan make-up yang barusan aku poleskan. Sedikit aku mengernyitkan dahi dan mengangguk dalam bisu sembari aku berkata “kamu cantik Din, aku ingin memelukmu, bolehkah?”
Aku tertawa kecil mencubit pipiku, menyadarkan aku dalam dalam lamun, tapi seraya berkata, ”Pria itu tidak akan menyentuhmu, Ia tidak akan melampuai batas dari ajarannya. Ia itu orang yang alim.”
Aku menggelengkan kepalaku. Sembari menjauh dari kaca itu dan meneriakkan, “Kenapa kamu jahat padaku? Apa yang salah dalam diriku, aku cantik, kenapa kamu tidak mau menyentuhku, kenapa?”
Aku terduduk. Seraya meneteskan air mata. Mennyapukan kedua tanganku di permukaaan yang kini kecut akan rasa takut. Ketakutan yang tidak pernah beralasan.
Terbesit dalam pikirku. Aku hanya terlahir sebagai seorang yang selalu menunggu. Yah, setidaknya begitu yang dikatakan ustadzahku tiga bulan yang lalu, “Din, tidak baik seorang wanita menyatakan perasaanya pada seorang pria.” Begitulah yang ia ucapkan.
“Din, pacaran itu dilarang, haram bagimu memikirkannya, ia hanya mendekatkanmu pada kenistaan.” Aku mengulangi apa yang perempaun renta itu katakan padaku.
Aku ragu, sebegitu burukkah kata pacaran itu bagi perempuan malang sepertiku. Apakah aku hanya menunggu Adam? Sampai seorang pria tua datang menyatakan cintanya pada orangtuaku.
Hawa saja berjalan, mendaki, dan menuruni terjalnya bebatuan untuk menemukan tulang rusuk yang tidak utuh itu. Kenapa kau tidak bisa menyatakan cintaku pada pria tadi, tak ada yang tahu kalau aku rusuknya yang hilang.
Aku terisak dalam sedu sedan yang dalam. Mencerca, menyaci, dan menghina kelemahanku sebagai seorang perempuan yang terpandang. Lulusan pesantren terkenal di Jawa Timur, dan sedang akan berangkat ke al-Azhar di Kairo.
*****
Tanganku menggapai pergelangan tangan seorang pria. Aku menyunggingkan senyumanku dan menggenggam erat kedua tangannya. Lalu aku melesatkan bokongku di atas pahanya.
“Aku bisa mengerti betapa sakitnya semua itu. Din.” Suaranya memecahkan suasana senja itu setelah aku menceritakan senja yang mencekamku akan rasa yang kini tak perlua kau takuti lagi.
Ia membalas remasan tanganku dan menecup keningku. “Aku senang, kamu menceritakan semuanya padaku.” Ia melanjutkan rangkain kata yang sempat terputus.
Ia mengelus dahiku. “Din, aku juga tersiksa. Aku juga meragukan rasaku padaku dulu. Engkau perempuan yang indah yang pernah singgah dikalbuku.”
Aku memberikan ciuman pertama dibibirnya. Ia menatapku mesra sembari meng-switch off neon yang menerangi ruangan kamar ini. Kami larut dalam gelap, sembari kami melafalkan doa untuk tuhan semoga ini menjadi awal yang diberkati oleh-Nya.
Aku merasakan lekuk tubuh pria yang dari dulu aku mimpikan untuk singgah di dermaga gulatanku. Pria yang dulu haram bagiku, kini ia berbeda. Kami telah menyatukan dua hati di atas ikatan perjanjian yang diberkati tuhan.
Untuk itu, kami akan menghabiskan senja-senja berikutnya di bilik yang sama dengan keindahan yang menggelora di tiap sudutnya ruang di atas tetesan peluh, dan senandung surat yang kita nyanyikan bersama berbagi bahagia untuk dunia.
Aku tak sabar untuk meninabobokan anak-anakku yang lucu dan manis. Mengisi waktuku dan suami yang aku cintai. Berbagi kisah dan membesarkan mereka dengan cinta dan uluran tangan tuhan yang selalu melindungi keluarga kami yang bahagia.
Semua itu berawal dari suatu senja yang menguras peluh dan gelora asmara yang ditentukan tuhan untukku dan pria yang bersamaku di bilik ini.(diambil dari /www.pewarta-indonesia.com)ceritanya seru lo.......
Senin, April 05, 2010
matematika alam semesta
Bilangan prima dalam matematika diyakini merupakan salah satu misteri alam semesta, karena hingga era komputer sekarang ini pun, ia banyak dimanfaatkan sebagai sistem kodetifikasi (pengkodean, penyandian) berbagai hal yang penting dan rahasia. Di alam semesta, ia "diduga" menjadi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua makhluk berkecerdasan tinggi dan dipakai sebagai komunikasi dasar antar mereka. Bahkan sejak dahulu, sebagian ilmuwan meyakini adanya hubungan erat bilangan prima dengan desain kosmos.
Berdasarkan kajian mutakhir atas al-Qur'an, ditemukan bahwa Sang Pencipta al-Qur'an dan Alam Semesta menjaga dan memelihara Kitab Mulia ini, antara lain, dengan sistem kodetifikasi berbasis bilangan prima. Dengan memanfaatkan temuan sains modern dan kajian mutakhir para ilmuwan Muslim terhadap al-Qur'an, buku ini mengajak pembaca menangkap isyarat-isyarat al-Qur'an yang tersembunyi dalam kodetifikasi bilangan prima.
Berdasarkan kajian mutakhir atas al-Qur'an, ditemukan bahwa Sang Pencipta al-Qur'an dan Alam Semesta menjaga dan memelihara Kitab Mulia ini, antara lain, dengan sistem kodetifikasi berbasis bilangan prima. Dengan memanfaatkan temuan sains modern dan kajian mutakhir para ilmuwan Muslim terhadap al-Qur'an, buku ini mengajak pembaca menangkap isyarat-isyarat al-Qur'an yang tersembunyi dalam kodetifikasi bilangan prima.
setiap pagi akan ada hal-hal yang baru
kecemasan mengenai hari yang akan di hadapi merupakan karakteristik yang terdapat pada sementara orang, khususnya bila mereka merasa harus menjumpai persoalan yang sulit dan tidak menyenangkan. mereka memandang kemungkinan itu dengan perasaan tidak suka, atau mungkin bahkan takut,sehingga mereka hanya sedikit memiliki kegairahan untuk mengatasi tantangan yang terdapat dalam persoalan itu
Minggu, April 04, 2010
aku tak bisa

harus aku akui aku tak mungkin bisa melepaskanmu, atau mencampakanmu,
harus pula aku akui bahwa sebagian jiwaku telah terikat mati gairahmu,
meski kan ku hadapi kenyataan pahit itu dan biarkanmu terjamah cinta yg lain
aku tak pernah behenti mencintamu seluruh hati aku tak akan pernah aku takan bisa,
meski aku tak kan selamanya menumpahkan rasa denganmu tapi aku rela karena itu tak mungkin.
tak pernah terpikirkan kemana arah cinta ini dipertahankan ataukah harus berakhir aku terus berpijak pada keadaan ini
aku tak bisa lari dari cintamu
karena aku tak bisa,,,,,!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)