Mentari pagi di ufuk timur mulai menyapa lembut tubuhku lewat kaca sebelah samping kamarku. Seperti biasa, yang pertama kali kulihat adalah HP dadakanku yang tak begitu aku sukai. Tapi begitu penting buat mewarnai sebagian perjalanan hidupku.
teet…teet…teet…nada pesan itu mengalun lembut di telingaku. Seketika membuyarkan segala lamunanku tentang kisah HP dadakan itu. Tapi hanya sesaat saja. Lamunanku kembali mewarnai pagiku.
Tak terasa sudah hampir 2 bulan aku mewarnai sepenggal perjalanan kehidupanku bersama sahabatku. Yang selalu ada disaat aku letih dengan semua rutinitas hidup. Yach…sedikit menyebalkan sich…Seketika terlintas bayangan wajah seseorang yang selama ini menghantuiku dengan sejuta perasaan yang bertentangan dan berkecamuk di dada. Antara perasaan sedih, gembira, marah, benci, kecewa. Dan satu lagi perasaan yang ingin aku hilangkan dari pikiran dan hatiku. CINTA . Eah, perasaan yang tak pernah aku mengerti kapan datang dan perginya.
Terbesit keinginan untuk melupakan semua kejadian tanggal 28 Desember kemarin, tepat pukul 10.10. Entah apa itu, tiba-tiba HP ku berbunyi pesan sms masuk ketika di buka.
” maaf….q tdk bza ngelanjutin hubungan ini lebih jauh..
….sebentar lagi q mw married dgn org yg bner2 ngertiin q…”
Bak disambar petir di siang bolong. Aku tak bisa berkata apa-apa. Seketika itu juga, air mataku jatuh dan mengalir deras di pipiku. Entah apa yang ada di fikiranku saat itu. Yang pasti sedih dan kecewa karena merasa dikhianati. Entah sadar atau tidak, aku membalas sms itu.
“…what, jangan bercanda donk???
….gampang banget mengakhiri ini semua??
….selama ini kmu nganggep q ap??….”
Tak berselang lama..balasan sms itu muncul..
“Q nganggep km cowo quw..tapi itu dlu..
….sekarang q hanya nganggep km temen biasa..”
Oh my God….jawaban yang tak pernah aku sangka sebelumnya. Dunia serasa runtuh kala itu. Antara sadar dan tidak sadar..Seketika itu juga kulemparkan HP kesayanganku di tembok kamarku. Ya Tuhan…..Ancur dech…
Tak lama kemudian ada seorang pengantar surat datang ke kosan, sebuah kartu undangan dengan desain yang unik “ undangan pernikahan untuk ***** di tempat, aku buka dan aku baca surat itu ternyata benar undangan itu untukku
Dengan emosi yang masih menyala, aku mencoba menghubungi orang-orang terdekatku untuk memberitahukan nasib burukku…hikz…hikz….dengan HP yang aku pinjam dari teman kosan. Tak lupa aku bercerita tentang nasib buruk HP kesayanganku. Finnaly, salah satu teman terbaik ku mencarikanku sebuah HP dadakan. Huft….lumayan lega juga…meski di hati masih dongkol gara-gara kejadian pagi tadi.
Dengan langkah gontai, kuhidupkan mesin motor dan segera bergegas ke kampus. Huft….sampai di kampus aku ceritakan kejadian tersebut dengan teman-teman dia lalu mereka berkata .
” Udah dibilangin berkali-kali, masi aja ngeyel. ***** itu ga pantes buat kamu. Si ***** itu cuma mainin perasaan kamu aja. Aku udah tau kelakuannya dari dulu. Seorang ***** ga mungkin bisa berubah jadi c***k yang setia. Dulu bubar sama kamu gara-gara dia selingkuh. Ngajak kamu balikan lagi, sekarang ngajak bubar gara-gara dia mau married. c***k kaya gitu masi aja kamu belain terus. Pokoknya kalo sampai aku denger kamu balikan lagi sama *****, aku ga akan nganggep kamu sebagai teman lagi…..”
n bla bla bla bla bla…..temanku yg satu ini terus aja nyerocos karena marah n jengkel. Ga terima teman baiknya di mainin sama seorang *****. Yang notabane adalah temennya sendiri.
Dengan pelan, kuhidupkan MP3 punya temanku yang satu ini …sepintas terdengar lirik lagu….
” Jangan pernah setia bila harus berujung menyakitkan
sia-sia setia bila harus slalu terluka
mungkin karna setia cinta tak kan pernah bahagia
Tapi karna mendua cinta kan berakhir bahagia..”
yupz….setia itu menyakitkan…
Setelah itu aku pulang dengan seribu pertanyaan dan angan. entah apa lagi yang aku pikirkan kala itu. Semua terasa gelap dan menyedihkan.
Selama kurang lebih 2 bulan, tak ada semangat untuk menjalani hari-hariku. Semua terasa sepi dan hampa. Tanpa adanya c****yang namannya ****. Yach….Aku harus melupakan semua angan dan fikiran tentang dia. Aku pasti bisa. Masih banyak cewek yang lebih baik dan lebih bisa ngertiin aku. cewek yang bener-bener tulus sayang sama aku. cewek yang ga hanya mempermainkan perasaanku. Ucapku pada diriku sendiri untuk membangkitkan semangat dan motivasiku.
Seketika itu juga, timbul niatku untuk melanjutkan kembali hidupku yang setengahnya udah kabur entah kemana….
” Jangan nyerah gethu donk..
coba cari yang lain
di bumi ini ga cuma dia seorang
masih banyak kok yang bisa
lebih baik dan mengerti
terima kamu apa adanya…”
lha…..kok….malah nyanyi…..tapi tak apalah. untuk menghibur diri sendiri.
Karena kebanyakan ngelamunin masa lalu…jadi ga denger kalo lagunya usher yang falling in love again udah bernyanyi-nyanyi dari tadi di HP q…
OMG……langsung kuangkat telpon yang berdering..
“baru bangun say…”
sapa lembut si penelpon dari ujung sana…yang tak lain dan tak bukan adalah orang yang udah meluluhkan hatiku setelah kejadian 2 bulan silam…dan kami menjalin hubungan baru 1 bulan ini..Hehe…jadi ga heran kalo masih hangat-hangatnya.
“ea…”
jawabku tak kalah lembut..meski sedikit berbohong…
“ea udah..sana cepetan mandi..terus berangkat ke kampus…jangan lupa maem ea…”
oh….lembut banget suaranya..
“siap bozzz…..hehe”
“love u….”
Bergegas aku berbenah diri dan segera berangkat. Meskipun belum sarapan tapi demi ketemu doi tak apalah, Berharap dapat ketemu dengan Farah lebih cepat di kampus. Farah adalah mahasiswi jurusan ekonomi . namun dia sudah bekerja di sebuah instansi deket kampus. So, ga ada alasan buat ga ketemu dengannya di kampusku. hahay…
Tinggal satu semester lagi. Selesai juga kuliahku. semoga Farah selalu memberi support buat aku untuk nyelesain semua tugas dan kewajibanku. Sebagai Mahasiswa tentunya.
Sesampainya di kampus, doi udah nunggu aku di taman tempat kami biasanya bertemu.
Dia udah tau kelakuan ku klo pagipasti belum sarapan makanya dia bawain aku roti isi enak juga makan roti di taman eh di temenin org yg kita sayang lagi mantabs……
Akhirnya aku bisa juga melupakan kejadian apa tragedi ya ah….apalah
Sing penting aku ga beranggapan kalo semua cinta itu buta
dan setia itu tidak menyakitkan lagi….
hingga teringat sebuah kata bijak…
“BELAJARLAH MENGENALI KEHENINGAN DI DALAM DIRIMU…
DAN BELAJARLAH MEMAHAMI, BAHWA SEMUA YANG TERJADI DALAM HIDUPMU
PUNYA TUJUAN….”
Dan dari sosok Farah aku dapat belajar banyak tentang makna dan hakikat hidup…
Tentang cita-cita dan cinta…..
rAin cItY
03/02/2011
03:00 wib setelah terfikir bahwa hidup itu indah jika kita nikmati dengan suka cita dan cinta
..
Selasa, Februari 22, 2011
Kamis, Februari 03, 2011
Cintaku sudah Gila
Mataku terbuka kembali, ketika pagi masih tertelan oleh gelapnya malam.
Tak ada apapun yg dapat kulihat, hanya hitam, gelap, dan tak ada terang sedikitpun…
apakah aku buta…?
Tanyaku dalam hati…
Sejenak aku melamun…dan terlintas dalam pikiranku, seorang gadis yang kucinta, yang membuatku selalu terdiam, ketika berhadapan dengannya, seolah olah mulut ini terkunci oleh keanggunannya.
Ya,gadis itu…gadis yg kuanggap sebagai bidadari, gadis yang selalu menyiksa hatiku, karna aku tak mampu mengungkapkan perasaanku.
3 tahun aku pendam semuanya, berbagai cara telah aku lakukan.
Agar aku mendapatkan cintanya, atau paling tidak dia menganggapku ada.
Walau semua hanyalah mimpi,dan aku tak pernah ada dihatinya.
Aku seperti hantu yang tak terlihat olehnya.
Tapi aku tak pernah menyerah. Kumantapkan hatiku, kukuatkan tekadku. Aku akan terus berusaha, apapun yang terjadi, aku akan mengungkapkan perasaanku.
Dan aku harus mendapatkan cintanya…
Semua sudah aku siapkan, dan tak lupa sebuah bunga abadi, yang ku dapatkan ketika aku mendaki di atas tebing gunung Merbabu.Yang kudapatkan dengan mempertaruhkan nyawaku. Semua aku lakukan untuknya.
Bunga Edelweis…ya,bunga Edelweis…
seperti nama bidadariku itu…
Edelwais Fatmawati Putri…
Dan hari itupun terjadi, ketika malam terasa terang, karena bulan bersinar penuh di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga-bunga.
Di tempat ini aku menunggunya…apakah dia menerima undanganku..dan bersedia datang ke taman ini? Batinku terus bertanya…
Hingga akhirnya kulihat seorang gadis mendekat kepadaku. Meski saat itu tengah malam dan tak begitu terang, tapi ak tahu, dialah bidadariku, dan dia menerima undanganku….
Oh Tuhan…senang sekali rasanya…kukuatkan tekad…kumantabkan niat…
Aku harus melakukannya sekarang, aku harus mengungkapkan isi hatiku…
Perlahan kuhampiri dia, sebelum dia sampai ditempatku. Aku berlutut dihadapannya dan kuserahkan bunga edelwais yang sudah aku siapkan.
Tanpa ragu lagi kuungkapkan semua isi hatiku yang selama ini aku pendam. Dengan penuh keyakinan aku berkata…
“Walaupun kau tak begitu mengenalku…tapi aku mengenalmu melebihi siapapun…walau kau tak pernah merasakan kehadiranku…tapi kau selalu ada didalam hatiku…Itu karena aku mencintaimu…sangat sangat mencintaimu…
Apakah kau jg mencintai aku…?
Apakah kau bersedia menerima cintaku…?
Mendengar perkataanku dia hanya diam, dia hanya memandangku seperti patung yang tak bernyawa. Bahkan dia pun tak menerima bunga pemberianku. Bunga yg ku dapatkan dengan pertaruhan nyawa…
Dia hanya berkata…
“Maaf aku tdak bisa…”
Dan diapun berlalu meninggalkanku, seolah olah aku tidak ada di hadapannya. Setelah apa yang aku lakukan, dia masih tak menganggapku ada…
Aku marah, aku menjerit, aku menangis…
Oh Tuhan…jangan hukum aku dengan cinta ini…
Ak menghela nafas dan tersadar dari lamunanku. Sesaat kemudian tubuhku terasa ringan, mengambang seperti kapas tertiup angin…
Aku terbang, aku terbang…
Oh Tuhan…aku terbang…
Yah, aku terbang…
Dan perlahan lahan mataku pun dapat melihat kembali. Kulihat tubuhku tergeletak tak berdaya, berselimut darah, dngan pisau menancap di dada…
Apa yag terjadi dengan tubuhku?
Apakah aku mati…?
Darah mengalir dimana-mana, hingga rumput-rumput disebelahku pun berganti warna…
Kulihat sesosok tubuh tergeletak penuh darah di sebelah tubuhku…aku mengenalnya…
Yah, aku mengenalnya…
Dialah bidadari…yang selama ini kucintai…
Apa yang terjadi dengannya…?
Dadanya robek penuh darah, seperti tertikam sebuah pisau…
Astagfirulloh
aku menjerit ketika ingatanku kembali pulih…
Aku membunuhnya…
Aku yg membunuhnya…
Sebelum aku membunuh diriku sendiri, karna dia telah menolakku…
Oh Tuhan…aku sudah gila…
Gila karna cintaku kepadanya…
Tak ada apapun yg dapat kulihat, hanya hitam, gelap, dan tak ada terang sedikitpun…
apakah aku buta…?
Tanyaku dalam hati…
Sejenak aku melamun…dan terlintas dalam pikiranku, seorang gadis yang kucinta, yang membuatku selalu terdiam, ketika berhadapan dengannya, seolah olah mulut ini terkunci oleh keanggunannya.
Ya,gadis itu…gadis yg kuanggap sebagai bidadari, gadis yang selalu menyiksa hatiku, karna aku tak mampu mengungkapkan perasaanku.
3 tahun aku pendam semuanya, berbagai cara telah aku lakukan.
Agar aku mendapatkan cintanya, atau paling tidak dia menganggapku ada.
Walau semua hanyalah mimpi,dan aku tak pernah ada dihatinya.
Aku seperti hantu yang tak terlihat olehnya.
Tapi aku tak pernah menyerah. Kumantapkan hatiku, kukuatkan tekadku. Aku akan terus berusaha, apapun yang terjadi, aku akan mengungkapkan perasaanku.
Dan aku harus mendapatkan cintanya…
Semua sudah aku siapkan, dan tak lupa sebuah bunga abadi, yang ku dapatkan ketika aku mendaki di atas tebing gunung Merbabu.Yang kudapatkan dengan mempertaruhkan nyawaku. Semua aku lakukan untuknya.
Bunga Edelweis…ya,bunga Edelweis…
seperti nama bidadariku itu…
Edelwais Fatmawati Putri…
Dan hari itupun terjadi, ketika malam terasa terang, karena bulan bersinar penuh di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga-bunga.
Di tempat ini aku menunggunya…apakah dia menerima undanganku..dan bersedia datang ke taman ini? Batinku terus bertanya…
Hingga akhirnya kulihat seorang gadis mendekat kepadaku. Meski saat itu tengah malam dan tak begitu terang, tapi ak tahu, dialah bidadariku, dan dia menerima undanganku….
Oh Tuhan…senang sekali rasanya…kukuatkan tekad…kumantabkan niat…
Aku harus melakukannya sekarang, aku harus mengungkapkan isi hatiku…
Perlahan kuhampiri dia, sebelum dia sampai ditempatku. Aku berlutut dihadapannya dan kuserahkan bunga edelwais yang sudah aku siapkan.
Tanpa ragu lagi kuungkapkan semua isi hatiku yang selama ini aku pendam. Dengan penuh keyakinan aku berkata…
“Walaupun kau tak begitu mengenalku…tapi aku mengenalmu melebihi siapapun…walau kau tak pernah merasakan kehadiranku…tapi kau selalu ada didalam hatiku…Itu karena aku mencintaimu…sangat sangat mencintaimu…
Apakah kau jg mencintai aku…?
Apakah kau bersedia menerima cintaku…?
Mendengar perkataanku dia hanya diam, dia hanya memandangku seperti patung yang tak bernyawa. Bahkan dia pun tak menerima bunga pemberianku. Bunga yg ku dapatkan dengan pertaruhan nyawa…
Dia hanya berkata…
“Maaf aku tdak bisa…”
Dan diapun berlalu meninggalkanku, seolah olah aku tidak ada di hadapannya. Setelah apa yang aku lakukan, dia masih tak menganggapku ada…
Aku marah, aku menjerit, aku menangis…
Oh Tuhan…jangan hukum aku dengan cinta ini…
Ak menghela nafas dan tersadar dari lamunanku. Sesaat kemudian tubuhku terasa ringan, mengambang seperti kapas tertiup angin…
Aku terbang, aku terbang…
Oh Tuhan…aku terbang…
Yah, aku terbang…
Dan perlahan lahan mataku pun dapat melihat kembali. Kulihat tubuhku tergeletak tak berdaya, berselimut darah, dngan pisau menancap di dada…
Apa yag terjadi dengan tubuhku?
Apakah aku mati…?
Darah mengalir dimana-mana, hingga rumput-rumput disebelahku pun berganti warna…
Kulihat sesosok tubuh tergeletak penuh darah di sebelah tubuhku…aku mengenalnya…
Yah, aku mengenalnya…
Dialah bidadari…yang selama ini kucintai…
Apa yang terjadi dengannya…?
Dadanya robek penuh darah, seperti tertikam sebuah pisau…
Astagfirulloh
aku menjerit ketika ingatanku kembali pulih…
Aku membunuhnya…
Aku yg membunuhnya…
Sebelum aku membunuh diriku sendiri, karna dia telah menolakku…
Oh Tuhan…aku sudah gila…
Gila karna cintaku kepadanya…
Kisah teman
Hamparan sawah hijau terpantul dari bola mataku. Embun pagi yang dingin tetapi menyegarkan bagaikan permata dalam balutan zamrud hijau nan apik. Aku duduk dengan nyaman dalam bangku terempuk dan tertinggi. Menyaksikan sirkus alami dari alam pedesaan. Capung, burung, kupu - kupu dan makhluk sawah lain bagaikan para aktor dan artis terhebat dalam sirkus ini. Terbang kesana kemari, hinggap pada kembang - kembang sawah yang berwarna - warni, bersiul saling menyapa, bertukar kabar dengan kepakan sayapnya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Kupejamkan mata, menahan tangisku.
Langkah kakinya terhenti. Aku hanya diam saat kedua tangan kekar tapi lembut itu menurunkan tubuhku dari bahunya. Apakah badanku sangat berat, sehingga ia lelah. Dia menggandeng tangan kananku. Aku merengek sebal. Namun, dia hanya merekahkan senyum. Kami berdua berjalan. Dia dengan sabar berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kecilku. Saat aku mulai merengek kembali karena telah lelah berjalan, maka saat itulah dia akan mengeluarkan 1001 cerita islami yang menarik tentang perjuangan para nabi dan rosul Allah dalam mempetahankan Sang Raja Jagad Raya yang Esa, Sang Pencipta tanpa cela yaitu Allah SWT. Dengan suaranya yang berat, semangat serta gaya berceritanya yang bagaikan pendongeng sejati itu membuatku terpesona dan tersenyum senang. Sehingga aku lupa dengan rasa lelahku. Selalu rasa ingin tahu dan penasaran mendorongku untuk meminta akhir dari cerita, padahal hal - hal menakjubkan masih akan berlanjut sebelum sampai pada akhir ceritanya. Dahinya yang mulai berkeringat itu berkerut mendengar pertanyaan kecilku, dia hanya tersenyum kemudian menghentikan ceritanya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang membuatku tidak dapat tidur malam harinya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Butiran bola - bola kecil nan bening telah sampai pada ujung mataku.
Saat itu aku tarbangun dari mimpi burukku. Adzan subuh berkumandang merdu di surau depan rumahku. Aku mencari - cari sosoknya dalam keremangan lampu kamar. Namun, dia tak ada. Aku pun mulai menangis. Ibuku datang tergopoh - gopoh dari dapur. Kaget. Berjalan mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi sia - sia. Aku berlari menuju pintu depan. Membuka pintu dan duduk menangis sangat keras menenggelamkan suara kodok, jangkrik serta ayam. Membangunkan para tetanggaku. Membuat ibuku malu atas kelakuanku. Para tetanggaku datang silih berganti. Mulai, dari ibu - ibu rumah tangga yang masih membawa centong nasi, kepala - kepala penasaran yang mengintip dari balik jendela kaca mencari sosok yang telah menghentikan mimpi mereka sampai para jamaah sholat subuh bersarung yang setia, mereka semua mencoba menenangkanku meskipun ada juga yang merengut sebal berdoa mengharap keributan itu cepat berakhir. Seperti ibuku, itu hanyalah sia - sia. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Bola - bola bening itu sudah mulai menggelinding walau sangat pelan meninggalkan ujung mataku.
Hingga akhirnya sosok itu muncul di sela - sela para tetanggaku. Mulut kecilku terdiam. Gerakan kakiku berhenti. Terikan nafasku masih tersengal - sengal tetapi mulai teratur. Rongga dadaku mulai melonggar. Hidungku kembang kempis. Namun, air mataku tetap mengalir walaupun sudah tak ada ringikan dari mulutku. Dia mengulurkan kedua tangannya padaku. Tersenyum. Dia membawaku dalam gendongannya dan di sisi lain suara - suara helaian nafas lega terdengar sayup - sayup dari belakang punggungnya. Seringaian nakal kecil terlukis dari bibirku. Puas membuat semuanya panik. Dia mendudukanku di sudut surau. Tak lupa dia menggelarkan sajadahnya untuk alas dudukku. Lalu mengumandangkan iqomat. Aku hanya terdiam menunggu. Hingga akhirnya mataku terpejam. Aku tertidur nyenyak. Sangat nyenyak sehingga tak merasakan tempat tidurku berpindah ketangannya. Air liurku menetes membasahi tangannya. Dia hanya tersenyum. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Satu tetes sudah air mata membasah pipiku.
Aku duduk mengantuk di depan buku tugasku. Pensil yang kupegang telah merosot dari jari - jariku. Di sisi lain dalam kamar dengan penerangan lampu 5 watt itu, tergantung satu stel baju seragam merah putihku. Sudah larut malam memang saat itu tetapi aku tetap berusaha menahan kantukku. Dia selalu membantuku dalam aku mengerjakan tugas - tugasku, bahkan pernah teman - teman sekolahku datang ke rumahku hanya untuk memintanya mengajari tugas matematika mereka dan hasilnya selalu memuaskan.. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Telah berpuluh - puluh bola kecil nan bening itu membasahi pipiku.
"...sholehah, hanya status itu yang aku ingikan darinya...
...senyum, hanya itu yang ingin aku lihat dari bibirnya...
Senyum kebahagian mendapat cinta kasih - Mu
Ya... Robbku...
Lindungi dia selalu dalam selimut kasih - Mu...
Amien...
Air mataku benar - benar tak dapat aku hentikan. Ringikan doa dengan air mata itu membuatku tahu...
Kini.
Kini aku benar - benar menangis melihat dia, "Ayahku", tertidur untuk selama - lamanya. Ayahku yang menjadi kekuatanku. Ayahku yang selalu kutunggu senyumannya untuk memotivasiku. Ayahku yang selalu kuingat saat aku tidur. Ayahku yang selalu aku tegaskan pada diriku sendiri sabagai "Sang Idola" perjalanan hidupku kelak. Senyum ayahku adalah motivasiku.
Aku akan tersenyum seperti dalam doanya. Aku berjanji akan menggapai cita - citaku agar ayah dapat bangga dan tersenyum untukku dari surga- Nya.
Aku mengingatnya kembali. Kupejamkan mata, menahan tangisku.
Langkah kakinya terhenti. Aku hanya diam saat kedua tangan kekar tapi lembut itu menurunkan tubuhku dari bahunya. Apakah badanku sangat berat, sehingga ia lelah. Dia menggandeng tangan kananku. Aku merengek sebal. Namun, dia hanya merekahkan senyum. Kami berdua berjalan. Dia dengan sabar berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kecilku. Saat aku mulai merengek kembali karena telah lelah berjalan, maka saat itulah dia akan mengeluarkan 1001 cerita islami yang menarik tentang perjuangan para nabi dan rosul Allah dalam mempetahankan Sang Raja Jagad Raya yang Esa, Sang Pencipta tanpa cela yaitu Allah SWT. Dengan suaranya yang berat, semangat serta gaya berceritanya yang bagaikan pendongeng sejati itu membuatku terpesona dan tersenyum senang. Sehingga aku lupa dengan rasa lelahku. Selalu rasa ingin tahu dan penasaran mendorongku untuk meminta akhir dari cerita, padahal hal - hal menakjubkan masih akan berlanjut sebelum sampai pada akhir ceritanya. Dahinya yang mulai berkeringat itu berkerut mendengar pertanyaan kecilku, dia hanya tersenyum kemudian menghentikan ceritanya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang membuatku tidak dapat tidur malam harinya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Butiran bola - bola kecil nan bening telah sampai pada ujung mataku.
Saat itu aku tarbangun dari mimpi burukku. Adzan subuh berkumandang merdu di surau depan rumahku. Aku mencari - cari sosoknya dalam keremangan lampu kamar. Namun, dia tak ada. Aku pun mulai menangis. Ibuku datang tergopoh - gopoh dari dapur. Kaget. Berjalan mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi sia - sia. Aku berlari menuju pintu depan. Membuka pintu dan duduk menangis sangat keras menenggelamkan suara kodok, jangkrik serta ayam. Membangunkan para tetanggaku. Membuat ibuku malu atas kelakuanku. Para tetanggaku datang silih berganti. Mulai, dari ibu - ibu rumah tangga yang masih membawa centong nasi, kepala - kepala penasaran yang mengintip dari balik jendela kaca mencari sosok yang telah menghentikan mimpi mereka sampai para jamaah sholat subuh bersarung yang setia, mereka semua mencoba menenangkanku meskipun ada juga yang merengut sebal berdoa mengharap keributan itu cepat berakhir. Seperti ibuku, itu hanyalah sia - sia. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Bola - bola bening itu sudah mulai menggelinding walau sangat pelan meninggalkan ujung mataku.
Hingga akhirnya sosok itu muncul di sela - sela para tetanggaku. Mulut kecilku terdiam. Gerakan kakiku berhenti. Terikan nafasku masih tersengal - sengal tetapi mulai teratur. Rongga dadaku mulai melonggar. Hidungku kembang kempis. Namun, air mataku tetap mengalir walaupun sudah tak ada ringikan dari mulutku. Dia mengulurkan kedua tangannya padaku. Tersenyum. Dia membawaku dalam gendongannya dan di sisi lain suara - suara helaian nafas lega terdengar sayup - sayup dari belakang punggungnya. Seringaian nakal kecil terlukis dari bibirku. Puas membuat semuanya panik. Dia mendudukanku di sudut surau. Tak lupa dia menggelarkan sajadahnya untuk alas dudukku. Lalu mengumandangkan iqomat. Aku hanya terdiam menunggu. Hingga akhirnya mataku terpejam. Aku tertidur nyenyak. Sangat nyenyak sehingga tak merasakan tempat tidurku berpindah ketangannya. Air liurku menetes membasahi tangannya. Dia hanya tersenyum. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Satu tetes sudah air mata membasah pipiku.
Aku duduk mengantuk di depan buku tugasku. Pensil yang kupegang telah merosot dari jari - jariku. Di sisi lain dalam kamar dengan penerangan lampu 5 watt itu, tergantung satu stel baju seragam merah putihku. Sudah larut malam memang saat itu tetapi aku tetap berusaha menahan kantukku. Dia selalu membantuku dalam aku mengerjakan tugas - tugasku, bahkan pernah teman - teman sekolahku datang ke rumahku hanya untuk memintanya mengajari tugas matematika mereka dan hasilnya selalu memuaskan.. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Telah berpuluh - puluh bola kecil nan bening itu membasahi pipiku.
"...sholehah, hanya status itu yang aku ingikan darinya...
...senyum, hanya itu yang ingin aku lihat dari bibirnya...
Senyum kebahagian mendapat cinta kasih - Mu
Ya... Robbku...
Lindungi dia selalu dalam selimut kasih - Mu...
Amien...
Air mataku benar - benar tak dapat aku hentikan. Ringikan doa dengan air mata itu membuatku tahu...
Kini.
Kini aku benar - benar menangis melihat dia, "Ayahku", tertidur untuk selama - lamanya. Ayahku yang menjadi kekuatanku. Ayahku yang selalu kutunggu senyumannya untuk memotivasiku. Ayahku yang selalu kuingat saat aku tidur. Ayahku yang selalu aku tegaskan pada diriku sendiri sabagai "Sang Idola" perjalanan hidupku kelak. Senyum ayahku adalah motivasiku.
Aku akan tersenyum seperti dalam doanya. Aku berjanji akan menggapai cita - citaku agar ayah dapat bangga dan tersenyum untukku dari surga- Nya.
Curhat
hatiku berkecah lagi
berkeping-keping
berhamburan di tepi jalanan
jangankan memungut
melihatnya pun mereka tak sudi
tapi
kau kah itu?
dengan lembut senyummu
mengumpulkan satu demi satu
keping-keping hati ini
kau kah itu?
yang merajutnya kembali
menyatukan dan memasangya untukku
kau hidupkan lagi
hati ku yang sunyi
tanpa pernah peduli
lalu lalang orang memaki
kau kah itu?
panda putihku?
" kupersembahkan Tulisan ini untuk mu E*K*G** yg selalu di hatiku walaupun kau 2 kan cintaku "
rAin citY
03/02/2011
i-On3
berkeping-keping
berhamburan di tepi jalanan
jangankan memungut
melihatnya pun mereka tak sudi
tapi
kau kah itu?
dengan lembut senyummu
mengumpulkan satu demi satu
keping-keping hati ini
kau kah itu?
yang merajutnya kembali
menyatukan dan memasangya untukku
kau hidupkan lagi
hati ku yang sunyi
tanpa pernah peduli
lalu lalang orang memaki
kau kah itu?
panda putihku?
" kupersembahkan Tulisan ini untuk mu E*K*G** yg selalu di hatiku walaupun kau 2 kan cintaku "
rAin citY
03/02/2011
i-On3
3 gaya marah manusia
Kemarahan adalah salah satu emosi yang paling sering dirasakan oleh seseorang jika menghadapi suatu perbedaan. Meski begitu tidak semua kemarahan itu sama, karena ada 3 gaya marah yang dialami oleh seseorang.
Hampir sebagian besar orang tidak menyukai amarah dan mengembangkan beberapa cara untuk mengatasinya. Kemarahan yang timbul tidak selalu berupa ledakan emosi, tapi kadang jauh lebih halus dan berbahaya.
Kemarahan adalah reaksi alami ketika seseorang merasa dikhianati, kecewa, frustasi, dilecehkan, sakit hati, diabaikan dan tidak dihormati. Terkadang seseorang memiliki gaya marah yang berbeda tergantung tempat dan waktunya.
Ada 3 gaya utama yang biasanya diekspresikan seseorang ketika sedang marah, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/2/2011) yaitu:
Kemarahan yang cepat dan temperamen (agresif)
Emosi ini akan cepat meletus ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya atau ada yang salah, dan merupakan jenis kemarahan yang paling jelas. Emosi kemarahan ini biasanya muncul di wajah dan bersifat agresif.
Akibat yang timbul dari gaya marah seperti ini secara fisik adalah rasa panas di leher atau wajah, detak jantung yang cepat, mondar-mandir, berkeringat terutama di telapak tangan, gemetar, bertindak kasar, mulai berteriak, menjerit atau menangis.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasakan marah, sebal, kadang di luar kontrol atau kendali dan cemas.
Kemarahan yang tersembunyi di dalam (pasif)
Seseorang akan tetap tampak menyenangkan dan bahkan santai dari luar karena ia menyembunyikan rasa amarah yang sebenarnya. Wajah pasif kemarahan ini sering menyebabkan masalah kesehatan yang serius akibat rasa amarah yang terpendam.
Akibat yang timbul dari gaya marah pasif secara fisik adalah orang yang sedang marah akan menjauh dari situasi, menggosok kepala, menjadi diam, mengisolasi, perilaku kompulsif terhadap makanan, belanja atau seks serta fantasi pembalasan dendam.
Sedangkan akibat yang timbul dari sisi emosi adalah seseorang mungkin akan merasa kesal, takut, didominasi, lemah, tertekan dan rasa bersalah.
Kemarahan pasif-agresif
Jenis ini yang paling sering membuat ekspresi kemarahan frustasi dan dibutuhkan waktu untuk mengenalinya. Seseorang akan tampak tenang dan biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa, tapi pada kondisi tertentu ia akan menyendiri dan meluapkan emosinya.
Akibat yang timbul dari gaya marah ini secara fisik adalah terlihat seseorang yang mengeraskan rahang atau menggertak gigi, sakit kepala, sakit perut, melukai diri sendiri seperti menggigit kuku atau membenturkan kepala, detak jantung meningkat, pusing, mulai menangis serta perilaku kompulsif untuk makan, belanja, bersih-bersih atau seks.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasa membenci diri sendiri, bodoh, merasa buruk, tertekan, sedih dan bersalah.
Cara meredam marah
Berbagai cara bisa dilakukan untuk meredamkan amarahnya. Cara yang bisa dilakukan antara lain:
1.jika anda muslim berwudu lah karena itu akan membuat kita tenang
2.Minum air putih
3.Menarik napas dalam
4.Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal lain yang lebih menarik
5.Menuliskan perasaannya di secarik kertas lalu dirobek dan dibuang.
Hampir sebagian besar orang tidak menyukai amarah dan mengembangkan beberapa cara untuk mengatasinya. Kemarahan yang timbul tidak selalu berupa ledakan emosi, tapi kadang jauh lebih halus dan berbahaya.
Kemarahan adalah reaksi alami ketika seseorang merasa dikhianati, kecewa, frustasi, dilecehkan, sakit hati, diabaikan dan tidak dihormati. Terkadang seseorang memiliki gaya marah yang berbeda tergantung tempat dan waktunya.
Ada 3 gaya utama yang biasanya diekspresikan seseorang ketika sedang marah, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/2/2011) yaitu:
Kemarahan yang cepat dan temperamen (agresif)
Emosi ini akan cepat meletus ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya atau ada yang salah, dan merupakan jenis kemarahan yang paling jelas. Emosi kemarahan ini biasanya muncul di wajah dan bersifat agresif.
Akibat yang timbul dari gaya marah seperti ini secara fisik adalah rasa panas di leher atau wajah, detak jantung yang cepat, mondar-mandir, berkeringat terutama di telapak tangan, gemetar, bertindak kasar, mulai berteriak, menjerit atau menangis.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasakan marah, sebal, kadang di luar kontrol atau kendali dan cemas.
Kemarahan yang tersembunyi di dalam (pasif)
Seseorang akan tetap tampak menyenangkan dan bahkan santai dari luar karena ia menyembunyikan rasa amarah yang sebenarnya. Wajah pasif kemarahan ini sering menyebabkan masalah kesehatan yang serius akibat rasa amarah yang terpendam.
Akibat yang timbul dari gaya marah pasif secara fisik adalah orang yang sedang marah akan menjauh dari situasi, menggosok kepala, menjadi diam, mengisolasi, perilaku kompulsif terhadap makanan, belanja atau seks serta fantasi pembalasan dendam.
Sedangkan akibat yang timbul dari sisi emosi adalah seseorang mungkin akan merasa kesal, takut, didominasi, lemah, tertekan dan rasa bersalah.
Kemarahan pasif-agresif
Jenis ini yang paling sering membuat ekspresi kemarahan frustasi dan dibutuhkan waktu untuk mengenalinya. Seseorang akan tampak tenang dan biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa, tapi pada kondisi tertentu ia akan menyendiri dan meluapkan emosinya.
Akibat yang timbul dari gaya marah ini secara fisik adalah terlihat seseorang yang mengeraskan rahang atau menggertak gigi, sakit kepala, sakit perut, melukai diri sendiri seperti menggigit kuku atau membenturkan kepala, detak jantung meningkat, pusing, mulai menangis serta perilaku kompulsif untuk makan, belanja, bersih-bersih atau seks.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasa membenci diri sendiri, bodoh, merasa buruk, tertekan, sedih dan bersalah.
Cara meredam marah
Berbagai cara bisa dilakukan untuk meredamkan amarahnya. Cara yang bisa dilakukan antara lain:
1.jika anda muslim berwudu lah karena itu akan membuat kita tenang
2.Minum air putih
3.Menarik napas dalam
4.Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal lain yang lebih menarik
5.Menuliskan perasaannya di secarik kertas lalu dirobek dan dibuang.
Langganan:
Postingan (Atom)