Mataku terbuka kembali, ketika pagi masih tertelan oleh gelapnya malam.
Tak ada apapun yg dapat kulihat, hanya hitam, gelap, dan tak ada terang sedikitpun…
apakah aku buta…?
Tanyaku dalam hati…
Sejenak aku melamun…dan terlintas dalam pikiranku, seorang gadis yang kucinta, yang membuatku selalu terdiam, ketika berhadapan dengannya, seolah olah mulut ini terkunci oleh keanggunannya.
Ya,gadis itu…gadis yg kuanggap sebagai bidadari, gadis yang selalu menyiksa hatiku, karna aku tak mampu mengungkapkan perasaanku.
3 tahun aku pendam semuanya, berbagai cara telah aku lakukan.
Agar aku mendapatkan cintanya, atau paling tidak dia menganggapku ada.
Walau semua hanyalah mimpi,dan aku tak pernah ada dihatinya.
Aku seperti hantu yang tak terlihat olehnya.
Tapi aku tak pernah menyerah. Kumantapkan hatiku, kukuatkan tekadku. Aku akan terus berusaha, apapun yang terjadi, aku akan mengungkapkan perasaanku.
Dan aku harus mendapatkan cintanya…
Semua sudah aku siapkan, dan tak lupa sebuah bunga abadi, yang ku dapatkan ketika aku mendaki di atas tebing gunung Merbabu.Yang kudapatkan dengan mempertaruhkan nyawaku. Semua aku lakukan untuknya.
Bunga Edelweis…ya,bunga Edelweis…
seperti nama bidadariku itu…
Edelwais Fatmawati Putri…
Dan hari itupun terjadi, ketika malam terasa terang, karena bulan bersinar penuh di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga-bunga.
Di tempat ini aku menunggunya…apakah dia menerima undanganku..dan bersedia datang ke taman ini? Batinku terus bertanya…
Hingga akhirnya kulihat seorang gadis mendekat kepadaku. Meski saat itu tengah malam dan tak begitu terang, tapi ak tahu, dialah bidadariku, dan dia menerima undanganku….
Oh Tuhan…senang sekali rasanya…kukuatkan tekad…kumantabkan niat…
Aku harus melakukannya sekarang, aku harus mengungkapkan isi hatiku…
Perlahan kuhampiri dia, sebelum dia sampai ditempatku. Aku berlutut dihadapannya dan kuserahkan bunga edelwais yang sudah aku siapkan.
Tanpa ragu lagi kuungkapkan semua isi hatiku yang selama ini aku pendam. Dengan penuh keyakinan aku berkata…
“Walaupun kau tak begitu mengenalku…tapi aku mengenalmu melebihi siapapun…walau kau tak pernah merasakan kehadiranku…tapi kau selalu ada didalam hatiku…Itu karena aku mencintaimu…sangat sangat mencintaimu…
Apakah kau jg mencintai aku…?
Apakah kau bersedia menerima cintaku…?
Mendengar perkataanku dia hanya diam, dia hanya memandangku seperti patung yang tak bernyawa. Bahkan dia pun tak menerima bunga pemberianku. Bunga yg ku dapatkan dengan pertaruhan nyawa…
Dia hanya berkata…
“Maaf aku tdak bisa…”
Dan diapun berlalu meninggalkanku, seolah olah aku tidak ada di hadapannya. Setelah apa yang aku lakukan, dia masih tak menganggapku ada…
Aku marah, aku menjerit, aku menangis…
Oh Tuhan…jangan hukum aku dengan cinta ini…
Ak menghela nafas dan tersadar dari lamunanku. Sesaat kemudian tubuhku terasa ringan, mengambang seperti kapas tertiup angin…
Aku terbang, aku terbang…
Oh Tuhan…aku terbang…
Yah, aku terbang…
Dan perlahan lahan mataku pun dapat melihat kembali. Kulihat tubuhku tergeletak tak berdaya, berselimut darah, dngan pisau menancap di dada…
Apa yag terjadi dengan tubuhku?
Apakah aku mati…?
Darah mengalir dimana-mana, hingga rumput-rumput disebelahku pun berganti warna…
Kulihat sesosok tubuh tergeletak penuh darah di sebelah tubuhku…aku mengenalnya…
Yah, aku mengenalnya…
Dialah bidadari…yang selama ini kucintai…
Apa yang terjadi dengannya…?
Dadanya robek penuh darah, seperti tertikam sebuah pisau…
Astagfirulloh
aku menjerit ketika ingatanku kembali pulih…
Aku membunuhnya…
Aku yg membunuhnya…
Sebelum aku membunuh diriku sendiri, karna dia telah menolakku…
Oh Tuhan…aku sudah gila…
Gila karna cintaku kepadanya…
..
Kamis, Februari 03, 2011
Kisah teman
Hamparan sawah hijau terpantul dari bola mataku. Embun pagi yang dingin tetapi menyegarkan bagaikan permata dalam balutan zamrud hijau nan apik. Aku duduk dengan nyaman dalam bangku terempuk dan tertinggi. Menyaksikan sirkus alami dari alam pedesaan. Capung, burung, kupu - kupu dan makhluk sawah lain bagaikan para aktor dan artis terhebat dalam sirkus ini. Terbang kesana kemari, hinggap pada kembang - kembang sawah yang berwarna - warni, bersiul saling menyapa, bertukar kabar dengan kepakan sayapnya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Kupejamkan mata, menahan tangisku.
Langkah kakinya terhenti. Aku hanya diam saat kedua tangan kekar tapi lembut itu menurunkan tubuhku dari bahunya. Apakah badanku sangat berat, sehingga ia lelah. Dia menggandeng tangan kananku. Aku merengek sebal. Namun, dia hanya merekahkan senyum. Kami berdua berjalan. Dia dengan sabar berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kecilku. Saat aku mulai merengek kembali karena telah lelah berjalan, maka saat itulah dia akan mengeluarkan 1001 cerita islami yang menarik tentang perjuangan para nabi dan rosul Allah dalam mempetahankan Sang Raja Jagad Raya yang Esa, Sang Pencipta tanpa cela yaitu Allah SWT. Dengan suaranya yang berat, semangat serta gaya berceritanya yang bagaikan pendongeng sejati itu membuatku terpesona dan tersenyum senang. Sehingga aku lupa dengan rasa lelahku. Selalu rasa ingin tahu dan penasaran mendorongku untuk meminta akhir dari cerita, padahal hal - hal menakjubkan masih akan berlanjut sebelum sampai pada akhir ceritanya. Dahinya yang mulai berkeringat itu berkerut mendengar pertanyaan kecilku, dia hanya tersenyum kemudian menghentikan ceritanya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang membuatku tidak dapat tidur malam harinya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Butiran bola - bola kecil nan bening telah sampai pada ujung mataku.
Saat itu aku tarbangun dari mimpi burukku. Adzan subuh berkumandang merdu di surau depan rumahku. Aku mencari - cari sosoknya dalam keremangan lampu kamar. Namun, dia tak ada. Aku pun mulai menangis. Ibuku datang tergopoh - gopoh dari dapur. Kaget. Berjalan mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi sia - sia. Aku berlari menuju pintu depan. Membuka pintu dan duduk menangis sangat keras menenggelamkan suara kodok, jangkrik serta ayam. Membangunkan para tetanggaku. Membuat ibuku malu atas kelakuanku. Para tetanggaku datang silih berganti. Mulai, dari ibu - ibu rumah tangga yang masih membawa centong nasi, kepala - kepala penasaran yang mengintip dari balik jendela kaca mencari sosok yang telah menghentikan mimpi mereka sampai para jamaah sholat subuh bersarung yang setia, mereka semua mencoba menenangkanku meskipun ada juga yang merengut sebal berdoa mengharap keributan itu cepat berakhir. Seperti ibuku, itu hanyalah sia - sia. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Bola - bola bening itu sudah mulai menggelinding walau sangat pelan meninggalkan ujung mataku.
Hingga akhirnya sosok itu muncul di sela - sela para tetanggaku. Mulut kecilku terdiam. Gerakan kakiku berhenti. Terikan nafasku masih tersengal - sengal tetapi mulai teratur. Rongga dadaku mulai melonggar. Hidungku kembang kempis. Namun, air mataku tetap mengalir walaupun sudah tak ada ringikan dari mulutku. Dia mengulurkan kedua tangannya padaku. Tersenyum. Dia membawaku dalam gendongannya dan di sisi lain suara - suara helaian nafas lega terdengar sayup - sayup dari belakang punggungnya. Seringaian nakal kecil terlukis dari bibirku. Puas membuat semuanya panik. Dia mendudukanku di sudut surau. Tak lupa dia menggelarkan sajadahnya untuk alas dudukku. Lalu mengumandangkan iqomat. Aku hanya terdiam menunggu. Hingga akhirnya mataku terpejam. Aku tertidur nyenyak. Sangat nyenyak sehingga tak merasakan tempat tidurku berpindah ketangannya. Air liurku menetes membasahi tangannya. Dia hanya tersenyum. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Satu tetes sudah air mata membasah pipiku.
Aku duduk mengantuk di depan buku tugasku. Pensil yang kupegang telah merosot dari jari - jariku. Di sisi lain dalam kamar dengan penerangan lampu 5 watt itu, tergantung satu stel baju seragam merah putihku. Sudah larut malam memang saat itu tetapi aku tetap berusaha menahan kantukku. Dia selalu membantuku dalam aku mengerjakan tugas - tugasku, bahkan pernah teman - teman sekolahku datang ke rumahku hanya untuk memintanya mengajari tugas matematika mereka dan hasilnya selalu memuaskan.. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Telah berpuluh - puluh bola kecil nan bening itu membasahi pipiku.
"...sholehah, hanya status itu yang aku ingikan darinya...
...senyum, hanya itu yang ingin aku lihat dari bibirnya...
Senyum kebahagian mendapat cinta kasih - Mu
Ya... Robbku...
Lindungi dia selalu dalam selimut kasih - Mu...
Amien...
Air mataku benar - benar tak dapat aku hentikan. Ringikan doa dengan air mata itu membuatku tahu...
Kini.
Kini aku benar - benar menangis melihat dia, "Ayahku", tertidur untuk selama - lamanya. Ayahku yang menjadi kekuatanku. Ayahku yang selalu kutunggu senyumannya untuk memotivasiku. Ayahku yang selalu kuingat saat aku tidur. Ayahku yang selalu aku tegaskan pada diriku sendiri sabagai "Sang Idola" perjalanan hidupku kelak. Senyum ayahku adalah motivasiku.
Aku akan tersenyum seperti dalam doanya. Aku berjanji akan menggapai cita - citaku agar ayah dapat bangga dan tersenyum untukku dari surga- Nya.
Aku mengingatnya kembali. Kupejamkan mata, menahan tangisku.
Langkah kakinya terhenti. Aku hanya diam saat kedua tangan kekar tapi lembut itu menurunkan tubuhku dari bahunya. Apakah badanku sangat berat, sehingga ia lelah. Dia menggandeng tangan kananku. Aku merengek sebal. Namun, dia hanya merekahkan senyum. Kami berdua berjalan. Dia dengan sabar berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah kecilku. Saat aku mulai merengek kembali karena telah lelah berjalan, maka saat itulah dia akan mengeluarkan 1001 cerita islami yang menarik tentang perjuangan para nabi dan rosul Allah dalam mempetahankan Sang Raja Jagad Raya yang Esa, Sang Pencipta tanpa cela yaitu Allah SWT. Dengan suaranya yang berat, semangat serta gaya berceritanya yang bagaikan pendongeng sejati itu membuatku terpesona dan tersenyum senang. Sehingga aku lupa dengan rasa lelahku. Selalu rasa ingin tahu dan penasaran mendorongku untuk meminta akhir dari cerita, padahal hal - hal menakjubkan masih akan berlanjut sebelum sampai pada akhir ceritanya. Dahinya yang mulai berkeringat itu berkerut mendengar pertanyaan kecilku, dia hanya tersenyum kemudian menghentikan ceritanya tanpa memberikan jawaban atas pertanyaanku. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang membuatku tidak dapat tidur malam harinya. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Butiran bola - bola kecil nan bening telah sampai pada ujung mataku.
Saat itu aku tarbangun dari mimpi burukku. Adzan subuh berkumandang merdu di surau depan rumahku. Aku mencari - cari sosoknya dalam keremangan lampu kamar. Namun, dia tak ada. Aku pun mulai menangis. Ibuku datang tergopoh - gopoh dari dapur. Kaget. Berjalan mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi sia - sia. Aku berlari menuju pintu depan. Membuka pintu dan duduk menangis sangat keras menenggelamkan suara kodok, jangkrik serta ayam. Membangunkan para tetanggaku. Membuat ibuku malu atas kelakuanku. Para tetanggaku datang silih berganti. Mulai, dari ibu - ibu rumah tangga yang masih membawa centong nasi, kepala - kepala penasaran yang mengintip dari balik jendela kaca mencari sosok yang telah menghentikan mimpi mereka sampai para jamaah sholat subuh bersarung yang setia, mereka semua mencoba menenangkanku meskipun ada juga yang merengut sebal berdoa mengharap keributan itu cepat berakhir. Seperti ibuku, itu hanyalah sia - sia. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Bola - bola bening itu sudah mulai menggelinding walau sangat pelan meninggalkan ujung mataku.
Hingga akhirnya sosok itu muncul di sela - sela para tetanggaku. Mulut kecilku terdiam. Gerakan kakiku berhenti. Terikan nafasku masih tersengal - sengal tetapi mulai teratur. Rongga dadaku mulai melonggar. Hidungku kembang kempis. Namun, air mataku tetap mengalir walaupun sudah tak ada ringikan dari mulutku. Dia mengulurkan kedua tangannya padaku. Tersenyum. Dia membawaku dalam gendongannya dan di sisi lain suara - suara helaian nafas lega terdengar sayup - sayup dari belakang punggungnya. Seringaian nakal kecil terlukis dari bibirku. Puas membuat semuanya panik. Dia mendudukanku di sudut surau. Tak lupa dia menggelarkan sajadahnya untuk alas dudukku. Lalu mengumandangkan iqomat. Aku hanya terdiam menunggu. Hingga akhirnya mataku terpejam. Aku tertidur nyenyak. Sangat nyenyak sehingga tak merasakan tempat tidurku berpindah ketangannya. Air liurku menetes membasahi tangannya. Dia hanya tersenyum. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Satu tetes sudah air mata membasah pipiku.
Aku duduk mengantuk di depan buku tugasku. Pensil yang kupegang telah merosot dari jari - jariku. Di sisi lain dalam kamar dengan penerangan lampu 5 watt itu, tergantung satu stel baju seragam merah putihku. Sudah larut malam memang saat itu tetapi aku tetap berusaha menahan kantukku. Dia selalu membantuku dalam aku mengerjakan tugas - tugasku, bahkan pernah teman - teman sekolahku datang ke rumahku hanya untuk memintanya mengajari tugas matematika mereka dan hasilnya selalu memuaskan.. Selalu begitu.
Aku mengingatnya kembali. Telah berpuluh - puluh bola kecil nan bening itu membasahi pipiku.
"...sholehah, hanya status itu yang aku ingikan darinya...
...senyum, hanya itu yang ingin aku lihat dari bibirnya...
Senyum kebahagian mendapat cinta kasih - Mu
Ya... Robbku...
Lindungi dia selalu dalam selimut kasih - Mu...
Amien...
Air mataku benar - benar tak dapat aku hentikan. Ringikan doa dengan air mata itu membuatku tahu...
Kini.
Kini aku benar - benar menangis melihat dia, "Ayahku", tertidur untuk selama - lamanya. Ayahku yang menjadi kekuatanku. Ayahku yang selalu kutunggu senyumannya untuk memotivasiku. Ayahku yang selalu kuingat saat aku tidur. Ayahku yang selalu aku tegaskan pada diriku sendiri sabagai "Sang Idola" perjalanan hidupku kelak. Senyum ayahku adalah motivasiku.
Aku akan tersenyum seperti dalam doanya. Aku berjanji akan menggapai cita - citaku agar ayah dapat bangga dan tersenyum untukku dari surga- Nya.
Curhat
hatiku berkecah lagi
berkeping-keping
berhamburan di tepi jalanan
jangankan memungut
melihatnya pun mereka tak sudi
tapi
kau kah itu?
dengan lembut senyummu
mengumpulkan satu demi satu
keping-keping hati ini
kau kah itu?
yang merajutnya kembali
menyatukan dan memasangya untukku
kau hidupkan lagi
hati ku yang sunyi
tanpa pernah peduli
lalu lalang orang memaki
kau kah itu?
panda putihku?
" kupersembahkan Tulisan ini untuk mu E*K*G** yg selalu di hatiku walaupun kau 2 kan cintaku "
rAin citY
03/02/2011
i-On3
berkeping-keping
berhamburan di tepi jalanan
jangankan memungut
melihatnya pun mereka tak sudi
tapi
kau kah itu?
dengan lembut senyummu
mengumpulkan satu demi satu
keping-keping hati ini
kau kah itu?
yang merajutnya kembali
menyatukan dan memasangya untukku
kau hidupkan lagi
hati ku yang sunyi
tanpa pernah peduli
lalu lalang orang memaki
kau kah itu?
panda putihku?
" kupersembahkan Tulisan ini untuk mu E*K*G** yg selalu di hatiku walaupun kau 2 kan cintaku "
rAin citY
03/02/2011
i-On3
3 gaya marah manusia
Kemarahan adalah salah satu emosi yang paling sering dirasakan oleh seseorang jika menghadapi suatu perbedaan. Meski begitu tidak semua kemarahan itu sama, karena ada 3 gaya marah yang dialami oleh seseorang.
Hampir sebagian besar orang tidak menyukai amarah dan mengembangkan beberapa cara untuk mengatasinya. Kemarahan yang timbul tidak selalu berupa ledakan emosi, tapi kadang jauh lebih halus dan berbahaya.
Kemarahan adalah reaksi alami ketika seseorang merasa dikhianati, kecewa, frustasi, dilecehkan, sakit hati, diabaikan dan tidak dihormati. Terkadang seseorang memiliki gaya marah yang berbeda tergantung tempat dan waktunya.
Ada 3 gaya utama yang biasanya diekspresikan seseorang ketika sedang marah, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/2/2011) yaitu:
Kemarahan yang cepat dan temperamen (agresif)
Emosi ini akan cepat meletus ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya atau ada yang salah, dan merupakan jenis kemarahan yang paling jelas. Emosi kemarahan ini biasanya muncul di wajah dan bersifat agresif.
Akibat yang timbul dari gaya marah seperti ini secara fisik adalah rasa panas di leher atau wajah, detak jantung yang cepat, mondar-mandir, berkeringat terutama di telapak tangan, gemetar, bertindak kasar, mulai berteriak, menjerit atau menangis.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasakan marah, sebal, kadang di luar kontrol atau kendali dan cemas.
Kemarahan yang tersembunyi di dalam (pasif)
Seseorang akan tetap tampak menyenangkan dan bahkan santai dari luar karena ia menyembunyikan rasa amarah yang sebenarnya. Wajah pasif kemarahan ini sering menyebabkan masalah kesehatan yang serius akibat rasa amarah yang terpendam.
Akibat yang timbul dari gaya marah pasif secara fisik adalah orang yang sedang marah akan menjauh dari situasi, menggosok kepala, menjadi diam, mengisolasi, perilaku kompulsif terhadap makanan, belanja atau seks serta fantasi pembalasan dendam.
Sedangkan akibat yang timbul dari sisi emosi adalah seseorang mungkin akan merasa kesal, takut, didominasi, lemah, tertekan dan rasa bersalah.
Kemarahan pasif-agresif
Jenis ini yang paling sering membuat ekspresi kemarahan frustasi dan dibutuhkan waktu untuk mengenalinya. Seseorang akan tampak tenang dan biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa, tapi pada kondisi tertentu ia akan menyendiri dan meluapkan emosinya.
Akibat yang timbul dari gaya marah ini secara fisik adalah terlihat seseorang yang mengeraskan rahang atau menggertak gigi, sakit kepala, sakit perut, melukai diri sendiri seperti menggigit kuku atau membenturkan kepala, detak jantung meningkat, pusing, mulai menangis serta perilaku kompulsif untuk makan, belanja, bersih-bersih atau seks.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasa membenci diri sendiri, bodoh, merasa buruk, tertekan, sedih dan bersalah.
Cara meredam marah
Berbagai cara bisa dilakukan untuk meredamkan amarahnya. Cara yang bisa dilakukan antara lain:
1.jika anda muslim berwudu lah karena itu akan membuat kita tenang
2.Minum air putih
3.Menarik napas dalam
4.Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal lain yang lebih menarik
5.Menuliskan perasaannya di secarik kertas lalu dirobek dan dibuang.
Hampir sebagian besar orang tidak menyukai amarah dan mengembangkan beberapa cara untuk mengatasinya. Kemarahan yang timbul tidak selalu berupa ledakan emosi, tapi kadang jauh lebih halus dan berbahaya.
Kemarahan adalah reaksi alami ketika seseorang merasa dikhianati, kecewa, frustasi, dilecehkan, sakit hati, diabaikan dan tidak dihormati. Terkadang seseorang memiliki gaya marah yang berbeda tergantung tempat dan waktunya.
Ada 3 gaya utama yang biasanya diekspresikan seseorang ketika sedang marah, seperti dikutip dari Huffington Post, Rabu (2/2/2011) yaitu:
Kemarahan yang cepat dan temperamen (agresif)
Emosi ini akan cepat meletus ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya atau ada yang salah, dan merupakan jenis kemarahan yang paling jelas. Emosi kemarahan ini biasanya muncul di wajah dan bersifat agresif.
Akibat yang timbul dari gaya marah seperti ini secara fisik adalah rasa panas di leher atau wajah, detak jantung yang cepat, mondar-mandir, berkeringat terutama di telapak tangan, gemetar, bertindak kasar, mulai berteriak, menjerit atau menangis.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasakan marah, sebal, kadang di luar kontrol atau kendali dan cemas.
Kemarahan yang tersembunyi di dalam (pasif)
Seseorang akan tetap tampak menyenangkan dan bahkan santai dari luar karena ia menyembunyikan rasa amarah yang sebenarnya. Wajah pasif kemarahan ini sering menyebabkan masalah kesehatan yang serius akibat rasa amarah yang terpendam.
Akibat yang timbul dari gaya marah pasif secara fisik adalah orang yang sedang marah akan menjauh dari situasi, menggosok kepala, menjadi diam, mengisolasi, perilaku kompulsif terhadap makanan, belanja atau seks serta fantasi pembalasan dendam.
Sedangkan akibat yang timbul dari sisi emosi adalah seseorang mungkin akan merasa kesal, takut, didominasi, lemah, tertekan dan rasa bersalah.
Kemarahan pasif-agresif
Jenis ini yang paling sering membuat ekspresi kemarahan frustasi dan dibutuhkan waktu untuk mengenalinya. Seseorang akan tampak tenang dan biasa saja seakan-akan tidak terjadi apa-apa, tapi pada kondisi tertentu ia akan menyendiri dan meluapkan emosinya.
Akibat yang timbul dari gaya marah ini secara fisik adalah terlihat seseorang yang mengeraskan rahang atau menggertak gigi, sakit kepala, sakit perut, melukai diri sendiri seperti menggigit kuku atau membenturkan kepala, detak jantung meningkat, pusing, mulai menangis serta perilaku kompulsif untuk makan, belanja, bersih-bersih atau seks.
Sedangkan akibat yang timbul secara emosi adalah merasa membenci diri sendiri, bodoh, merasa buruk, tertekan, sedih dan bersalah.
Cara meredam marah
Berbagai cara bisa dilakukan untuk meredamkan amarahnya. Cara yang bisa dilakukan antara lain:
1.jika anda muslim berwudu lah karena itu akan membuat kita tenang
2.Minum air putih
3.Menarik napas dalam
4.Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal lain yang lebih menarik
5.Menuliskan perasaannya di secarik kertas lalu dirobek dan dibuang.
Langganan:
Postingan (Atom)